Promosi kondom, dual proteksi untuk KB dan Kespro PENYEBARAN HIV/AIDS dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang cepat, yang pada bulan Maret 2002 secara kumulatif tercatat kasus AIDS 689 dan HIV 2.187 dan pada akhir bulan Juni 2002, tercatat secara kumulatif jumlah seluruhnya 2.950 yang terdiri dari AIDS menjadi 752 dan HIV menjadi 2.198. Namun berdasarkan perkiraan para ahli saat ini kemungkinan di Indonesia terdapat 80.000-120.000 Orang Hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) artinya bahwa dalam 10 tahun mendatang kemungkinan akan ditemukan 100.000 orang yang meninggal karena AIDS.Perkembangan dan kecenderungan peningkatan permasalahan tersebut baik dalam jumlah, kualitas maupun tingkat persebarannya telah menimbulkan keprihatinan baik regional, nasional, maupun dunia internasional. Bahkan akhir-akhir ini kasus baru HIV/AIDS banyak disebabkan oleh Penyalahgunaan Narkotika melalui suntikan, namun secara umum penularan yang terbesar adalah melalui hubungan seksual tanpa alat pengaman. Hal lain yang telah memicu penyebaran HIV/AIDS adalah lalu lintas/mobilitas masyarakat terutama wanita penjaja seks (WPS) serta tumbuhnya lokasi-lokasi pelacuran yang baru setelah ditutupnya lokalisasi-lokalisasi oleh Pemerintah Daerah setempat. Penjaja seks tersebut dan pelanggannya sangat enggan menggunakan kondom baik sebagai alat untuk meningkatkan kesehatan seksualnya maupun untuk mencegah penularan HIV/AIDS dan IMS (Infeksi Menular Seksual). Direktur Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial Dr Pudji Hastuti MSc PH menguraikan dalam diskusi meja bundar Kondom, Dual Proteksi Untuk KB Nasional yang diselenggarakan Kantor BKKBN Nasional, di Jakarta, Kamis (5/9). Sampai saat ini program penggunaan kondom 100% belum menunjukkan hasil yang diharapkan maka diperlukan usaha-usaha meningkatkan promosi penggunaan kondom yang dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi antar berbagai profesi, disiplin ilmu serta antar pemerintah, masyarakat/NGO. Departemen Sosial sebagai salah satu instansi yang turut menanggulangi masalah HIV/AIDS mempunyai kelompok-kelompok sasaran pelayanan kesejahteraan sosial yang beresiko tinggi dan rawan penularan HIV/AIDS antara lain anak/remaja nakal, anak jalanan, gelandangan pengemis, wanita tuna susila, bekas narapidana, korban penyalahgunaan narkotika maupun komunitas adat terpencil. Usaha-usaha yang telah dilakukan antara lain melalui KIE, pencegahan pelayanan rehabilitasi sosial, konseling, advokasi dan sebagainya. Keadaan dan masalah: Permasalahan sosial akhir-akhir ini menunjukkan peningkatan baik jumlah, kualitas, maupun penyebarannya yang dipicu adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan sejak pertengahan tahun 1997. Data tahun 2002 dari Departemen Sosial menunjukkan jumlah populasi WTS 73.990 orang, Gepeng 38.582 orang, Korban Penyalahgunaan NAPZA 17.000 orang, Eks Narapidana 87.728 orang dan mereka ini sangat rawan tertular maupun menularkan HIV/AIDS. Dari populasi data di atas tersebut belum semua mendapatkan program KIE terutama penggunaan kondom karena dana penyuluhan terbatas. Selain itu dalam program KIE yang menjadi masalah bukan semata-mata penyuluhannya tetapi bagaimana penyuluhan itu dapat mengakibatkan terjadinya "Perubahan Perilaku" masyarakat. Kebijaksanaan Pemerintah tentang kondom dengan dikeluarkannya surat edaran Dirjen PPM & PLP pada tanggal 19 Desember 1996 yang isinya mengharuskan semua pelanggan WTS/WPS menggunakan kondom dalam melakukan hubungan seksual. Intinya kebijaksanaan tersebut untuk menganjurkan kondom hanya pada perilaku seksual resiko tinggi dan bukan untuk masyarakat biasa. Namun pada umumnya pelanggan tidak mau menggunakan kondom dengan berbagai alasan. Ironisnya WTS/WPS pun menerima pelanggan yang tidak mau berkondom tersebut agar mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemerintah juga mempunyai kebijaksanaan pelaksanaan kondom 100% dimana pemerintah menyediakan kondom untuk keperluan tersebut. Kenyataan di lapangan bukan penggunaan kondom 100% tetapi distribusi kondom 100% dalam arti WTS/WPS selalu menerima jatah kondom dari klinik/berbagai Yayasan tetapit idak digunakan dengan alasan pelanggan tidak mau menggunakan kondom. Dalam program kondom ini yang sulit adalah bagaimana atau indikator apa yang digunakan untuk memantau penggunaan kondom 100%, hal ini tentunya akan dipengaruhi metoda kualitas kondom, distribusi kondom, cara pemakaian kondom yang benar untuk pencegahan HIV/AIDS & IMS serta monitoring yang baik karena pada akhirnya hanya WPS dan pelangganlah yang mengetahuinya. Penggunaan kondom rendah karena adanya stigma yang berkaitan dengan pembelian, penjualan dan penggunaan kondom, bahwa orang yang membeli kondom akan melakukan hubungan seks yang tidak sah. Persepsi di kalangan pria bahwa kondom mengurangi kenikmatan. Kurangnya ketersediaan kondom di tempat pada waktu yang dibutuhkan. Mitos di kalangan pria bahwa antibiotik bisa mencegah HIV/AIDS. Kondom kurang bervariasi terutama untuk kenikmatan seks. Gepeng, WTS kurang mengenal kondom. Masih adanya ketimpangan antara jumlah penyandang masalah sosial yang memerlukan pelayanan sosial dengan kapasitas rehabilitasi sosial yang tersedia, sehingga mereka juga belum mendapatkan pelayanan penggunaan kondom. Peranan orsos/masyarakat dalam promosi kondom terutama untuk kelompok resiko tinggi masih belum merata di seluruh propinsi Indonesia. Tujuan dan sasaran: Tujuan Pelayanan Promosi Kondom meningkatkan kesadaran kelompok resiko tinggi akan manfaat kondom dalam upaya pencegahan terhadap penularan HIV/AIDS dan IMS. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang penggunaan kondom dalam mencegah penularan HIV/AIDS. Memberikan pelayanan sosial tentang penggunaan kondom pada kelompok sasaran pelayanan kesejahteraan sosial yang bersiko tinggi dan rawan penularan HIV/AIDS terutama yang terlibat perilaku seksual. Meningkatkan penggunaan kondom pada mereka yang terlibat dalam perilaku seks beriko tinggi pada setiap aktivitas seksual. Membantu distribusi kondom agar mudah diperoleh/dijangkau kelompok yang terlibat perilaku seks berisiko tinggi. Sasaran Sasan Strategis mengubah perilaku masyarakat yang kondisinya rawan terhadap penyebaran HIV/AIDS, menjadi masyarakat yang berperilaku positif terhadap bahaya penyebaran HIV/AIDS sehingga mereka mau menggunakan kondom terhadap bahaya penyebaran HIV/AIDS maupun untuk meningkatkan kesehatan seksualnya. Kelompok sasaran. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan keluarganya. Kelompok resiko tinggi seperti WTS/Wanita Penjaja Seks, Pengemis, Gelandangan, Bekas Narapidana, Anak Jalanan, Remaja Nakal, Penyalahguna Narkotika, Komunitas Adat Terpencil. Kebijakan dan program: Kebijakan Departemen Sosial dalam pelayanan sosial tentang strategi penanggulangan AIDS khususnya promosi dan penggunaan kondom. Meningkatkan dan memperkuat peranan masyarakat/Orsos dalam mempromosikan kondom kepada masyarakat baik sebagai alat KB, menjaga kesehatan maupun sebagai pencegahan HIV/AIDS dan IMS. Mengembangkan dan meningkatkan data informasi dan pemetaan mengenai permasalahan kelompok resiko tinggi agar semua mendapat pelayanan KIE tentang kondom dan penggunaan kondom. Keberhasilan penanggulangan HIV/AIDS khususnya dalam promosi dan penggunaan kondom pada akhirnya sangat ditentukan pemahaman, penghayatan, semangat, komitmen dan pengabdian serta dukungan politis. Pelaksana di lapangan maupun para pembuat kebijakan dengan instansi terkait di lokasi kegiatan. (P/miol) SUMBER: BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ) News for Tuesday 22 February, 2005 View all news for Tuesday 22 February, 2005 on one page |
|
Jakarta - Indonesia.


Petunjuk cara order


