Mesin Kondom, Efektifkah? PEMASANGAN mesin vending kondom (semacam ATM khusus) oleh pemerintah di beberapa daerah di Indonesia dimaksudkan agar konsumen lebih mudah mendapatkan kondom. Selain mudah diakses oleh mereka yang malu membelinya di apotek ataupun minimarket, ini juga merupakan upaya untuk menanggulangi persoalan HIV/AIDS yang terus merebak. Namun, efektivitas mesin kondom tersebut ternyata dipersoalkan kalangan peduli HIV/AIDS. Sebanyak 23 mesin vending kondom telah diserahkan dan dipasang di beberapa daerah. Di Jakarta, "ATM kondom" itu dapat ditemukan di Kantor Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat di kawasan Halim, Mabes TNI Cilangkap, RSPAD Gatot Subroto Jakarta, Mabes Polri, dan Polda Metro Jaya Jakarta. Mesin sejenis juga telah dipasang di RS Bayangkara Semarang, BKKBN Jawa Barat, serta Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Denpasar, Bali. Juga di Klinik KB Unit I PT Gudang Garam Tbk Kediri, BKKBN Lampung (dua mesin), BKKBN Mataram, RSUD Wonogiri, RSUD Sragen, Kodam IV Diponegoro Semarang, Aula Kantor Kelurahan Pasar Baru Jakarta, KPAD Papua (tujuh mesin), Kelurahan Sawahan/Doli Surabaya, dan BKKBN Jawa Timur. PEMASANGAN mesin vending kondom tersebut bukannya tanpa kendala. Ketua Yayasan Kerti Praja di Bali, Prof Dr Dewa Nyoman Wirawan MPH, menuturkan, BKKBN Pusat telah menyerahkan bantuan satu mesin kondom kepada Gubernur Bali pada bulan Juli 2004. Namun, sampai sekarang Pemerintah Daerah Provinsi Bali agak kesulitan menetapkan di mana mesin kondom tersebut harus diletakkan. Kalau diletakkan di dekat tempat penjaja seks bekerja, dikhawatirkan nanti dianggap merestui prostitusi. Pada rapat akhir di KPAD Provinsi Bali akhirnya ditetapkan bahwa mesin kondom tersebut akan diletakkan di Klinik Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Tetapi, ketika Wirawan ke Kantor KPAD Bali beberapa waktu lalu, mesin kondom tersebut masih ada di Kantor KPAD dan belum dipasang di PKBI. Sebagai Ketua Yayasan Kerti Praja, yang sejak tahun 1994 melakukan pemasaran kondom kepada pekerja seks dan pelanggannya, Wirawan pesimistis dengan efektivitas pemasangan mesin kondom itu. Argumentasinya, BKKBN Pusat mengemukakan bahwa ide pemasangan mesin kondom muncul dengan hasil penilaian bahwa laki-laki tidak memakai kondom karena malu membeli. Menurut Wirawan, penilaian seperti itu agak bias. Mungkin sebagian kecil betul bagi anak-anak muda yang berhubungan seks dengan pacarnya. Akan tetapi, pengalaman Yayasan Kerti Praja selama enam tahun (1994-2000), yang setiap hari menaruh kondom di atas meja di setiap kamar PSK bekerja, ternyata sebagian besar pelanggan (60 persen) tidak mau menggunakan kondom. "Jadi, tidak mungkin pelanggan (laki-laki) malu membeli kondom karena kondom sudah disediakan di atas meja. Ini fakta selama enam tahun," kata Wirawan. Argumentasi kedua, untuk mendapatkan kondom dari mesin kondom, harus memakai koin. Artinya, harus selalu ada penukaran koin di dekat mesin kondom. Siapakah yang mau mengurus? Argumentasi ketiga, pada mesin kondom yang disumbangkan di Bali, pada mesinnya tercantum pilihan aroma kondom (vanila, cokelat, dan stroberi). Berarti mesin harus diisi kondom yang beraroma yang biasa dipakai oral seks. "Mungkin maksud BKKBN agar orang tertarik memakai kondom, maka diberi pilihan kondom beraroma. Pengalaman Yayasan Kerti Praja di Bali, PSK low price amat jarang melakukan oral seks. Hanya PSK mid price yang lebih sering melayani oral seks. Selain itu, kondom beraroma biasanya dibeli oleh perempuan, bukan laki-laki," tutur Wirawan. Ia melanjutkan, setelah dipakai oral seks, kondom tersebut dibuang dan tidak dipakai pada hubungan seksual secara normal karena si pelanggan tidak bersedia. Jadi, mereka kemudian berhubungan tanpa memakai kondom. Dengan demikian, apa yang diharapkan BKKBN menjadi meleset. Mesin kondom yang disumbangkan di Bali, menurut Wirawan, juga sangat rentan rusak. Sebelum dipasang, mesin itu sempat dipamerkan di pameran pembangunan pada 17 Agustus 2004. Namun, baru ditekan beberapa kali oleh pengunjung pameran, mesin tersebut sudah macet. "Petugas teknisinya datang, lalu mesin baik sebentar, setelah itu macet lagi. Bisa dibayangkan mesin semacam itu ditaruh di lokasi prostitusi atau di terminal angkot, di mana banyak orang mabuk atau orang usil. Kultur kita belum sesuai dengan mesin itu. Mirip dengan telepon umum yang sebagian besar hilang diangkut maling. Mungkin di negara maju sudah lebih sesuai," kata Wirawan. Yang paling tepat dilakukan oleh BKKBN pada saat ini adalah membeli mesin vending kondom dalam jumlah yang tidak terlalu besar, lalu mengamati dengan cermat bagaimana hasilnya. Wirawan mengatakan, kalau saja BKKBN yang mempunyai puluhan ribu petugas lapangan melakukan reorientasi tugas-tugasnya-yaitu melakukan identifikasi penduduk laki-laki yang sering berhubungan seksual dengan PSK dan kemudian melakukan pendidikan perubahan perilaku seksual atau memberikan masukan pentingnya memakai kondom-maka bisa jadi cara ini justru lebih efektif. Bagaimana orang akan membeli kondom kalau dia sendiri belum sadar bahaya yang mengancam. PEMASANGAN mesin vending kondom dikhawatirkan justru memunculkan persoalan baru. Hal itu diungkapkan dr Adi Sasongko MA, Direktur Pelayanan Kesehatan Yayasan Kusuma Buana. Menurut dia, pemasangan mesin kondom itu sebuah ide yang tidak didasarkan pada telaah yang tepat tentang pelaksanaan penggunaan kondom di Indonesia. Jadi, bukan memberikan solusi, justru dikhawatirkan akan memunculkan masalah baru. Mesin kondom hanya cocok di tempat di mana kesadaran tentang pentingnya penggunaan kondom itu sudah ada sehingga mesin kondom membantu mempermudah akses. Di Indonesia, kenyataannya, kesadaran tentang penggunaan kondom itu masih amat minim. Belum lagi masalah teknis koin dan segala macam tetek bengek lainnya, juga soal keamanan karena bisa dirusak. "Ini saya rasa sebuah program yang tidak mengacu pada situasi kondisi di Indonesia," kata Adi Sasongko. Kalau masalahnya adalah rendahnya kesadaran menggunakan kondom, "Maka, solusinya bukan menyediakan mesin kondom. Itu wasting of money, buang-buang uang. Mesin kondom itu kan ada harganya. Betapa sayang di tengah kelangkaan sumber daya, malah kita mengambil pemecahan masalah yang tidak menyelesaikan masalah. Kondom dibagi-bagi secara gratis kepada para pekerja seks saja, tamunya tidak mau pakai. Apalagi disediakan mesin kondom," kata Adi. Adi Sasongko menyatakan, yang harus dilakukan saat ini adalah menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya penggunaan kondom. Sebab, masyarakat masih banyak yang belum mengerti apa kegunaan kondom. "Mereka merasa kondom mengurangi kenikmatan seksual. Ini yang harus diselesaikan dulu dan caranya adalah dengan akses informasi, penyuluhan kelompok, diskusi-diskusi, pelatihan-pelatihan, regulasi. Hal-hal seperti itulah yang perlu dilakukan sebelum kita sediakan mesin-mesin kondom," ujar Adi Sasongko. Kalau informasi atau sosialisasi mengenai manfaat kondom belum dilakukan, tidak akan ada gunanya dipasang mesin kondom. Pemasangan mesin kondom dinilai Adi Sasongko sebagai solusi "gampang", tetapi tidak menyelesaikan masalah, apalagi kalau kemudian timbul rasa aman semu. "Beres... kita sudah pasang mesin kondom dan mengasumsikan pasti yang pakai kondom meningkat. Itu, kan, logikanya tidak nyambung," tutur Adi. Kalau di negara-negara Eropa, yang masyarakatnya sudah berpendidikan baik dan mengerti pentingnya kondom, penyediaan mesin kondom itu artinya memang memberikan kemudahan bagi orang yang membutuhkan. Akan tetapi, kalau mengerti saja belum, lalu diberi mesin kondom, ya tidak nyambung karena memakai kondom itu harus mesti mengerti dulu manfaatnya. Menanggapi adanya kritikan mengenai pemasangan mesin vending kondom, Ketua BKKBN Sumarjati Arjoso mengatakan, "Saya tahu banyak sekali komentar, banyak sekali kritik, tetapi kami harus konsisten mempromosikan dan menyosialisasikan kondom. Maksud saya, ini sebagai bagian dari program aksi. Kita sudah terlalu banyak berdiskusi, bikin kesepakatan, tanda tangan. Tapi, kalau tidak ada program aksinya, kapan kita akan bisa tahu efektivitas dan efisiensinya program itu?" Diakui oleh Sumarjati, pemasangan mesin kondom ini memang harus terus didukung dengan penyuluhan pentingnya penggunaan kondom. Inilah yang terus-menerus dilakukan oleh BKKBN, dan diharapkan hal ini mampu menekan laju perkembangan HIV/AIDS. (LOK) Sumber: Surat Kabar Harian Kompas Tanggal: 15 Januari 2005 News for Tuesday 08 March, 2005 View all news for Tuesday 08 March, 2005 Recent News |
|
Jakarta - Indonesia.


Petunjuk cara order


